ARSITEKTUR DAN BUDAYA:SEBUAH RELASI FILOSOFIS
Keywords:
Arsitektur Indonesia, Identitas Budaya (Cultural Identity), Arsitektur Tradisional, Spiritualitas dalam Arsitektur, Arsitektur Nusantara, Kajian Budaya (Cultural Studies), Universitas PancasilaSynopsis
Buku ini menelusuri arsitektur Indonesia sebagai cerminan jiwa budaya; lebih dari sekadar wujud fisik, ia adalah bahasa nilai, spiritualitas, dan identitas. Melalui contoh dari Bali, Manggarai, Minangkabau, Asmat, hingga pengaruh Feng Shui, pembaca diajak memahami bahwa arsitektur adalah narasi hidup tentang hubungan manusia, alam, dan yang transenden.
Buku ini menjadi penanda karya bakti penulis sebagai staff pengajar Arsitektur di Universitas Pancasila, berisi rangkaian publikasi yang pernah diterbitkan di dua puluh tahun masa mengabdi.
Kiranya dapat menjadi manfaat bagi semua.
Downloads
References
Alhazmi, P. (2020). Nilai ruang terkini Alun-Alun Utara pada Kota Yogyakarta. Jurnal Reka Ruang, 3(1), 19–26.
Agus, E. (2011). Kajian topologi, morfologi, dan tipologi pada Rumah Gadang Minangkabau. [Data penerbit tidak tersedia].
Baissac, C. (2003, October 15–16). Maximising the developmental impact of EPZs: A comparative perspective in the African context of needed accelerated growth [Conference presentation]. Johannesburg EPZ Symposium, Johannesburg, South Africa.
Dagur, A. B. (1997). Kebudayaan Manggarai sebagai salah satu khasanah kebudayaan nasional. Ubhara Press.
Dian, M. (1996). Logika Feng Shui: Buku kedua. Elex Media Komputindo.
Krismantoro, D. (2017). Hukum penataan ruang berbasis Kraton Yogya (Kajian dari aspek budaya hukum) [Skripsi/Tesis, Universitas Islam Indonesia].
Dwiyendra, N. K. A. (2009). Arsitektur dan kebudayaan Bali kuno. [Data penerbit tidak tersedia].
Erb, M. (1999). The Manggaraians: A guide to traditional lifestyles. Times Edition Pte. Ltd.
Frampton, K. (1983). Towards a critical regionalism: Six points for an architecture of resistance. In H. Foster (Ed.), The anti-aesthetic: Essays on postmodern culture (pp. 16–30). Bay Press.
Gelebet, I. N. (1986). Arsitektur tradisional daerah Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Hemo, D. (1987). Sejarah Daerah Manggarai. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Meidianto, M. R., & Astrina. (2020). Komparasi tata massa dan ruang pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Jurnal RISA: Riset Arsitektur, 4(1). https://doi.org/10.26593/risa.v4i1.3686.50-65
Ikaputra. (1995). A study on the contemporary utilization of the Javanese urban heritage and its effect on historicity: An attempt to introduce the contextual adaptability into the preservation of historic environment of Yogyakarta [Dissertation, Osaka University].
Cruz, J. F. (2002, September 25). North Korea creates special economic zone.
Jurusan Arsitektur Universitas Pancasila. (2010). Arsitektur tradisional Bali Desa Bayunggede: Laporan kuliah observasi kajian arsitektur Bayunggede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Kent, S. (1990). Domestic architecture and the use of space. Cambridge University Press.
Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 04/KPTS/BKP4N/1995 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian Berimbang.
Khairuzzaky. (2018). Kajian struktur ragam hias ukiran tradisional Minangkabau pada Istano Basa Pagaruyung. Jurnal Titik Imaji, 1(1), 54–67.
Koentjaraningrat. (1985). Javanese culture. Oxford University Press.
Koentjaraningrat. (1985). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. (1980). Pengantar ilmu antropologi. Aksara Baru.
Koh, V. (2001). Feng Shui for the millennium: Panduan praktis untuk kehidupan modern yang harmonis. Elex Media Komputindo.
Universitas Komputer Indonesia. (2013). Ukiran tradisional Minangkabau pada Rumah Gadang. http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/495/jbptunikompp-gdl-zodiomeker-24713-2-babii.pdf
Kostof, S. (1991). The city shaped: Urban patterns and meanings through history. Thames & Hudson.
Wardani, L. K. (2012). Pengaruh pandangan sosio-kultural Sultan Hamengku Buwana IX terhadap eksistensi Keraton Yogyakarta. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 25(1), 56–63.
Lawang, R. M. Z. (1989). Stratifikasi sosial di Cancar-Manggarai Flores Barat [Disertasi tidak dipublikasikan]. Universitas Indonesia.
Martamin, M., & Brenson, A. (1976). Ragam ukiran Rumah Gadang Minangkabau. IKIP Padang, Jurusan Sejarah FKPS.
Mulder, N. (1975). Mysticism and daily life in contemporary Java: A cultural analysis of Javanese world view and ethic as embodied in kebatinan and everyday experience [Dissertation]. University of Amsterdam.
Navis, A. A. (1986). Alam takambang jadi guru: Adat dan kebudayaan Minangkabau. Grafiti Press.
Nuralia, L. (2017). Arti dan fungsi ragam hias pada rumah tuan tanah perkebunan Tambun, Kabupaten Bekasi. Purbawidya, 6(1), 43–59.
Pelly, U., & Menanti, A. (1994). Teori-teori sosial budaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pemerintah Kabupaten Asmat. (n.d.). Rencana tata ruang wilayah Kabupaten Asmat.
Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 3/PERMEN/M/2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.
Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 32/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.
Pertiwi, P. A., Pangarsa, G. W., & Antariksa. (2009). Tipologi ragam hias rumah tinggal kolonial Belanda di Ngamarto-Lawang. https://www.academia.edu/7024069/Tipologi_Ragam_Hias_Rumah_Tinggal_Kolonial_Belanda_di_Ngamarto-Lawang
Prijotomo, J. (1997). Materi kuliah arsitektur Nusantara. Program Pascasarjana FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Rapoport, A. (1969). House form and culture. Prentice-Hall.
Refisrul, & Arios, R. L. (2021). Konsep tata ruang budaya pada Rumah Gadang Kajang Padati di Kota Padang, Sumatra Barat. Pangadereng. https://jurnalpangadereng.kemdikbud.go.id/index.php/pangadereng/article/view/185
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu. (2007). Rencana rinci tata ruang Kasiba Kapuas Hulu tahun anggaran 2007. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu.
Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir. (2007). Rencana rinci tata ruang Kasiba Kayu Agung tahun anggaran 2007. Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Pemerintah Kabupaten Buton. (2007). Rencana rinci tata ruang Kasiba Lapodi tahun anggaran 2007. Pemerintah Kabupaten Buton.
Nurlaili, S., & Fathonah. (2020). Dimensi estetika dan identitas budaya dalam bangunan Keraton Surakarta. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 8(1), 1–24. https://doi.org/10.21043/fikrah.v8i1.6525
Skinner, S. (1990). Feng Shui: Ilmu tata letak tanah dan kehidupan Cina kuno. Dahara Prize.
Soekiman, D. (2000). Kebudayaan Indis dan gaya hidup masyarakat pendukungnya di Jawa (Abad XVIII–Medio Abad XX). Bentang Budaya.
Spradley, J. P. (1999). Metode etnografi (M. Z. Elizabeth, Penerj.). Tiara Wacana.
Sularto, R. (1995). Arsitektur Nusantara. Majalah ASRI, (144).
Sumarsono, J., dkk. (2005). Feng Shui pada rumah tinggal [Makalah]. Diskusi Ilmiah Arsitektur Indonesia Masa Lalu dan Masa Kini, Universitas Mpu Tantular.
Hidayatsyah, S. (2003). Draft panduan penyusunan program pemampuan pembangunan perumahan dan permukiman oleh masyarakat. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman, Departemen Kimpraswil.
Syamsidar (Ed.). (1991). Arsitektur tradisional daerah Sumatra Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya.
Behrend, T. E. (1982). Kraton and cosmos in traditional Java (Unpublished master's thesis). University of Wisconsin–Madison.
Tai, S. (2000). Prinsip-prinsip Feng Shui. Pustaka Delapratasa.
Toda, D. N. (1999). Manggarai: Mencari pencerahan historiografi. Nusa Indah.
Too, L. (2002). Smart Feng Shui for the home. Elex Media Komputindo.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.
Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 04/KPTS/BKP4N/1995 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian Berimbang.
Usman, I. (1984). Seni ukir tradisional Minangkabau [Disertasi, Institut Teknologi Bandung].
Hauben, V. J. H. (1994). Kraton and kumpeni: Surakarta and Yogyakarta, 1830–1870. KITLV Press.
Verheijen, J. A. J. (1991). Manggarai dan wujud tertinggi (A. Beding & M. Beding, Penerj.). LIPI-RUL.
Widya, D. (2001). Kajian arsitektur rumah tinggal tradisional Minangkabau Nagari Panyalaian Kabupaten Tanah Datar [Tesis Magister, Universitas Diponegoro].
Widyatmoko, B. (2019). Arsitektur tradisional Indonesia: Identitas dan kearifan lokal dalam era globalisasi. Kanisius.
Wiryomartono, A. B. P. (1995). Seni bangunan dan seni binakota di Indonesia: Kajian mengenai konsep, struktur, dan elemen fisik kota sejak peradaban Hindu-Buddha, Islam hingga sekarang. Gramedia Pustaka Utama.
Wiryoprawiro, Z. (1993). Ciri-ciri arsitektur tradisional Indonesia. Materi Kuliah SPA, FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Wongsengtian, V. H. (1998). Buku pintar Feng Shui: Analisa geomantika praktis bagi kehidupan modern. PT Kentindo Soho. (Karya asli diterbitkan tahun 1993)
Sumber Internet
Joglosemar. (n.d.). Joglosemar. http://www.joglosemar.co.id
Go Archipelago. (n.d.). Go Archipelago. http://www.go-archipelago.com
Yogya Indo Net. (n.d.). Yogya Indo Net. http://www.yogya.indo.net
Wasantara. (n.d.). Yogya Wasantara. http://www.yogya.wasantara.net.id
AnneAhira.com. (n.d.). Asal-usul suku Asmat. http://www.anneahira.com/asal-usul-suku-asmat.htm
Warisan Budaya Indonesia. (n.d.). Asal usul suku Asmat menjadi pengukir. http://warisanbudayaindonesia.info/view/warisan/1932/_Asal_Usul_Suku_Asmat_Menjadi_Pengukir
Littlechild, N. (2012, February 16). Suku Asmat. WordPress. http://nanalittlechild.wordpress.com/2012/02/16/suku-asmat/
Pemerintah Kabupaten Asmat. (n.d.). Pemerintah Kabupaten Asmat. http://www.asmatkab.go.id/
Suara Harapan. (n.d.). Agats, kota tanpa tanah. http://www.shnews.co/detile-27419-agats-kota-tanpa-tanah.html
Wallarch. (2009, December). Filosofi rumah adat Bali. http://wallarch.blogspot.com/2009/12/filosofi-rumah-adat-bali.html
Sewa Mobil Bali. (n.d.). Bali dan budaya. http://www.sewamobilbali.biz/bali-dan-budaya.php
Pojok Bali. (2007, December). Menelusuri keunikan Desa Bayung Gede. http://pojok-bali.blogspot.com/2007/12/menulusuri-keunikan-desa-bayung-gede-1.html
Institut Seni Indonesia Denpasar. (n.d.). Bentuk, fungsi, dan material bangunan rumah tinggal tradisional Bali Madya I. http://www.isi-dps.ac.id/berita/bentuk-fungsi-dan-material-bangunan-rumah-tinggal-tradisional-bali-madya-i.php
Mazeka82. (2011). ICCI 2006 [PDF]. https://mazeka82.files.wordpress.com/2011/04/icci2006s5pp04.pdf
Rapoport, A. (1982). The meaning of the built environment. Sage Publications.
Lawang, R. M. Z. (1999). Konflik tanah di Manggarai, Flores Barat: Pendekatan sosiologik. Penerbit Universitas Indonesia.
Koentjaraningrat. (1981). Beberapa pokok antropologi sosial. PT Dian Rakyat.
Koentjaraningrat. (1987). Kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan. Gramedia.
Chandra, D. (2013). Motif hias sirih gadang pada ukiran Rumah Gadang. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/dodichandra/motif-hias-sirih-gadang-pada-ukiran-rumah-gadang_552bc4236ea834a8078b45d9
Arch, N. (2008). Tugas besar arsitektur Nusantara. https://ninkarch.files.wordpress.com/2008/11/ars-nus-tgs-
Downloads
- REPOSITORY.pdf REPOSITORY.pdf
- REPOSITORY.pdf REPOSITORY.pdf
Published
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


